Jumat, 03 Desember 2010

0

Kuliner Sumenep Menggugah Selera

|
         Di Sumenep terdapat berbagai macam makanan khas yang menjadi buruan bagi para pelancong dan msyarakat Sumenep sendiri. Banyak kuliner yang sering diburu seperti kaldu kokot, apen, campor, soto dan masih banyak lagi yang lain.
         Kaldu merupakan salah satu makanan yang paling sering dinikmati. Kaldu di Sumenep bukanlah kaldu ayam maupun kaldu sapi. Kaldu ini berbeda dengan kaldu di luar pulau Jawa. Kaldu di Sumenep merupakan makanan berbahan dasar kacang hijau yang direbus dengan bumbu yang gurih. Banyak masyarakat luar Madura yang heran mereka bertanya-tanya “mana ada kacang hijau di beri bumbu gurih” karena yang mereka tau yaitu bubur kcang hijau yang manis. Begitulah pengalaman yang sering saya temui ketika orang luar pulau Madura diceritakan soal makanan ini.
        Tapi setelah mencoba menyantap kaldu mereka merasa ketagihan. Kaldu bisa di sajikan dengan ‘kokot’ (bagian bawah kaki sapi) yang telah direbus sampai lunak. Ada juga yang disajikan dengan lontong dan singkong yang direbus kemudian dihaluskan dan diberi bumbu setelah itu digoreng. Agar lebih nikmat kaldu ditambahkan dengan kecap, sambal dan jeruk nipis.
Baca selengkapnya »

0

Sumenepku dikelilingi oleh Pulau-Pulau Kecil

|

Kabupaten Sumenep memiliki beberapa wilayah yang merupakan kepulauan. Masyarakat kepulauan terkenal ramah, sopan dan beragama. Selain itu, masyarakatnya memiliki bahasa dan tutur kata (dialek) yang beraneka ragam antar daerah. Masyarakat yang mendiami pulau, biasa menggunakan berbagai bahasa, seperti bahasa bajo, bahasa mandar, bahasa makasar dan beberapa bahasa daerah yang berasal dari sulawesi. Hal ini tidak lepas, karena masyarakat pulau-pulau ini, dulunya adalah para pelayar yang berasal dari sulawesi.


            Pulau Sitabok ini mempunyai keindahan laut yang tak tertandingi pulau lain di Sumenep. Dari informasi yang dihimpun, rencananya, pulau akan dibuat tempat wisata religi yang dikhususkan bagi wisatawan dari timur tengah.
Pulau Kangean adalah gugusan pulau yang terletak di sebelah ujung timur Pulau Madura, Laut Jawa. Kepulauan ini terdiri dari sedikitnya 60 pulau, dengan luas wilayah 487 km². Pulau-pulau terbesar adalah Pulau Kangean (188 km²), Pulau Paliat, dan Pulau Sapanjang. Pulau Kangean bagian timur terdapat pegunungan dan puncak tertingginya 364 m. Kangean berjarak ±100 km dari Sumenep. Rata-rata waktu tempuh ke pulau Kangean sekitar 3 jam dari pelabuhan Kalianget.
            Sapanjang adalah salah satu pulau dari Kepulauan Kangean. Sapanjang merupakan pulau terbesar kedua setelah Pulau Kangean, dan berada di ujung tenggara gugusan Kepulauan Kangean. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Kabupaten Sumenep.
            Paliat adalah salah satu pulau dari Kepulauan Kangean. Paliat merupakan pulau terbesar ketiga setelah Pulau Kangean dan Pulau Sapanjang di gugusan Kepulauan Kangean. Pulau ini berada di sebelah timur Pulau Kangean. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Kabupaten Sumenep.
Pulau SapekenPulau Sapeken adalah sebuah kecamatan di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Daerah ini terletak di bagian paling ujung . Uniknya, penduduk di Kepulauan Sapeken ini berbahasa Sulawesi (bahasanya: bahasa Same, bahasa Mandar dan sebagian kecil berbahasa bugis) bukan berbahasa Madura karena dalam sejarahnya orang Sulawesilah yang menemukan kepulauan ini. Begitu juga dengan kultur budaya sangat berbeda dengan budaya Madura, rata-rata suku yang ada di kepulauan Sapeken ( kecamatan Sapeken) Suku Bajoe, suku Mandar dan suku bugis.Kepulauan Sapeken ini terletak di sebelah utara Bali.
Pulau/Dusun Bungin Nyarat, di Desa Saobi, Kecamatan Kangayan yang berpenghuni sekitar 100 KK atau 250 jiwa. Pulau lain yang serupa yakni Dusun Masjid di Pulau Saobi yang penduduknya mencapai 500 KK. Saat air pasang, semua daratan kedua pulau tersebut tergenang air laut. Bahkan, ketinggian air laut mencapai hingga 20 cm. Rumah warga yang mayoritas terdiri dari rumah panggung memang selamat. Namun, genangan air laut di bawah rumah itu membuat tidak nyaman kehidupan warga di kedua pulau tersebut. Menurut politisi asal Pulau Kangean ini, tak ada pembangunan penahanan air laut di dua pulau tersebut. Bahkan, pengerukan atau pengambilan pasir secara ilegal terus dilakukan. Upaya penanaman masyarakat tak bertanggung jawab pohong mangrove juga tidak ada.
Baca selengkapnya »

0

Olahraga Tradisional Balbudih di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep

|
        Olahraga tradisional merupakan hasil dari tradisi dan kebudayaan masyarakat yang harus dilestarikan. Akhir-akhir ini permainan tradisional sedikit-demi sedikit di kikis oleh modernisasi yang menglobal, sehingga masyarakat harus mampu mempertahankan budaya lokal dan tradisional. Kabupaten Sumenep mempunyai olahraga tradisional Balbudih, dan peneliti menemukan permainan tersebut di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep. Permainan olahraga tradisional Balbudih ini sangat unik dan menarik, serta mengandung nilai budaya dan tradisi, sehingga permainan ini perlu untuk dilestarikan oleh generasi-generasi penerusnya. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui tentang sejarah perkembangan permainan Balbudih di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, bentuk permainan Balbudih, dan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan Balbudih.
       Permainan ini berkembang di Desa Juluk mulai tahun 1950-an, tetapi dari tahun sebelumnya permainan ini sudah lebih berkembang di daerah lain, Desa pinggiran Kota Kabupaten Sumenep yaitu sekitar Desa Nambakor, Babbalan dan Patean. Permainan ini merupakan permainan musiman yang biasa dimainkan pada musim kemarau. Permainan ini dimainkan di lapangan terbuka yang berbentuk persegi panjang dengan panjang 12 meter dan lebar 3 meter, tempat memukul bola dengan jarak 9 meter dari garis depan lapangan dan ditanam dengan ketinggian 10 cm. Bola menggunakan bola tenis, jumlah pemain sebanyak 9 orang dan wasit 5 orang. Nilai yang terkandung adalah nilai sosial yang berhubungan dengan interaksi sosial masyarakat seperti kerjasama, kedisiplinan, persaudaraan, keakraban, kejujuran dan spootifitas, dan sebagainya. Kemudian nilai sosial yang berhubungan dengan relegiusitas yaitu memotivasi masyarakat dalam melakukan ibadah atau menjalankan tradisi keagamaan, serta nilai sosial yang berpengaruh pada motivasi hidup yaitu menghilangkan kebosanan masyarakat dalam bekerja setiap hari. Permainan olahraga tradisional harus tetap dilestarikan karena digunakan sebagai alat bagi masyarakat untuk bersosialisasi dan berinteraksi sosial, oleh karena itu pemerintah setempat harus mampu untuk mengidentifikasi permainan yang diciptakan oleh masyarakat, kemudian hasil budaya dan tradisi masyarakat harus selalu dikaji oleh para ahli dan akademisi serta pemerintah.

Baca selengkapnya »

0

Unik dan Menarik

|

Menikahkan anak dalam usia dini sudah biasa dilakukan orang tua di Desa Leggung Barat, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Sampai sekarang tradisi ini masih dipertahankan.
Desa Leggung Barat seperti desa di pinggir pantai lainnya, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Sebagian lagi petani dan pedagang. Desa ini dikenal dengan penghasil kelapa.
Desa Leggung Barat letaknya di timur laut Kota Sumenep. Dibagi dalam lima dusun, yakni Bandengan, Tekai, Kangkeran, Leggung, dan Kerupuk. Desa ini hanya satu jam perjalanan naik sepeda motor dari Kota Sumenep.
Sebenarnya, jika dilihat dari tingkat pendidikannya, warga Desa Lenggung Barat tidak begitu tertinggal. Sejumlah gedung sekolah, mulai dari SD/MI hingga MA sudah berdiri. Bahkan, sejumlah remajanya berlomba menamatkan pendidikannya hingga sarjana. Sedangkan anak yang tidak melanjutkan sekolah, masuk ke pesantren. Baik pesantren di wilayah Madura dan luar Madura.
Meski cukup berpendidikan, ada tradisi unik yang masih dipertahankan dari dulu sampai sekarang. Yakni, menikahkan anak dalam usia dini. Yang perempuan kisaran umur 13 tahun atau usia siswa SD, sedangkan yang pria kisaran 15 tahun atau usia siswa SMP.
Beberapa warga dan tokoh Desa Leggung Barat mengakui, tradisi nikah usia dini itu masih berlangsung sampai sekarang. Hanya, dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya semakin sedikit. "Kami mengistilahkan pernikahan tersebut dengan sirri," kata Kepala Desa Leggung Barat H Syaiful Anwar kepada koran ini di rumahnya kemarin.
Dia menjelaskan, anak yang dinikahkan sirri (rahasia) masih duduk dibangku SD dan MTs/SMP. Sekitar umur 13 hingga 15 tahun. Tapi, meski sudah dinikahkan sirri, biasanya, kedua pasangan itu belum bisa berkumpul serumah. Artinya, pasangan itu tidak boleh berhubungan.
Agar tidak berhubungan, biasanya salah satu dari pasangan itu oleh orang tuanya dimasukkan ke pesantren. Nah, setelah sampai waktunya atau umurnya sudah dianggap pas, pasangan itu boleh berkumpul layaknya suami istri.
Baca selengkapnya »

0

Sumenep City

|

                Madura merupakan pulau dimana aku dilahirkan. Tepatnya di Kota Sumenep aku dibesarkan. Sumenep merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Madura diantara tiga kabupaten lain yaitu, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan.
            Sumenep berasal dari kata “Songennep” yang secara etimologi memiliki arti :
·        Song berarti relung, geronggang (bahasa Kawi), Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi Songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang.
·        Song berarti sejuk, rindang, payung. Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi Songennep adalah lembah endapan yang sejuk dan rindang.
·        Song berarti relung atau cekungan, Ennep berarti tenang. Jadi Songennep berarti lembah yang tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang.
Arti kata Songennep menurut pendapat yang berkembang di masyarakat Sumenep :
·        Songennep berasal dari kata-kata moso ngenep, moso dalam bahasa Maduura berarti lawan atau musuh, ngenep berarti bermalam. Jadi Songennep berarti lawan atau musuh menginap atau bermalam.
·        Songennep berasal dari kata-kata ingsun ngenep, ingsun artinya saya, sedangkan ngenep berarti bermalam. Jadi Songennep berarti saya bermalam.
·        Kemudian berkembang di kalangan masyarakat, pendapat-pendapat kependekan asal kata Songennep, seperti ngaso ngenep, lesso ngenep, dan napso ngenep. Pendapat ini hanya sekedar permainan kata yang tidak didukung dengan peristiwa yang melatar belakanginya.
Perubahan nama Songennep menjadi Sumenep terjadi pada masa penjajahan Belanda, permulaan abad XVIII (1705). Yang mendasari perubahan tersebut antara lain :
1.         Belanda menyesuaikan atau memudahkan dalam pengucapan agar lebih sesuai dengan aksen Belanda. Mereka lebih mudah mengucapkan Sumenep dari pada Songennep.
2.      Untuk menanamkan pengaruhnya, pihak Belanda merasa perlu mengadakan perubahan nama Songennep menjadi Sumenep. Sebagai komparasi nama kota Jayakarta diubah menjadi Batavia.

Baca selengkapnya »

Copyright © 2010 3yL4 BLuee bLoom

Template N2y Shadow By Nano Yulianto